UPGRADE BERITA

Posted: 28 Maret 2012 in Tak Berkategori
Tag:

Mungkin dalam waktu dekat ini akan mulai mengupdate berita-berita lagi … tks

indonesian military power

Posted: 10 September 2010 in top videos

BTR-80

Posted: 9 September 2010 in top artikel

Sejarah

BTR-80 dibuat oleh Arzamas machinery Construction Plant, Nizhny Novgorod, Rusia, dirancang untuk membawa personil dimedan tempur dan memberikan dukungan tembakan jarak dekat. Juga untuk melakukan pengintaian, dukungan tempur dan misi patroli. Mulai digunakan AD Rusia akhir 1980an dan telah teruji diberbagai pertempuran, termasuk misi perdamaian PBB.

BTR-80 adalah pengangkut personel lapis baja beroda 8×8 yang dirancang Uni Soviet. Produksi dimulai pada tahun 1986, untuk menggantikan versi-versi sebelumnya, yaitu BTR-60 dan BTR-70. Soviet merancang BTR-80 berdasarkan BTR-70. Kendaraan ini menggunakan mesin diesel V-8 turbo 260-hp.

Korps Marinir TNI-AL mengakusisi 12 BTR-80A. Kendaraan baja tersebut bertugas dengan Detasemen Kavaleri di dalam Brigade Marinir I. BTR-80 Indonesia dipersenjatai dengan senapan mesin 14.5 mm dan 7.62 mm.

BTR-80A memiliki daya angkut sepuluh orang, terdiri komandan, pengemudi, penembak, serta tujuh orang pasukan. Persenjataan di antaranya dilengkapi fasilitas perlindungan serangan senjata NBC (nuklir, biologi, kimia), sistem penembakan otomatis senjatanya, serta sistem kamuflase.

Persenjataan standar terdiri mitraliur 2A72 (kaliber 30 mm dengan daya tembak 330 butir peluru per menit, yang dapat menembus baja tipis), senapan mesin PKT (kaliber 7,62 mm x 39 dengan untaian 2.000 butir peluru, jarak tembak 1.500 m), serta enam pelontar granat asap.

Varian dan Pengembangan

Beberapa pengembangan dari BTR-80, antara lain, BREM-K Ran Harkan; BMM versi ambulan; RkhM-4-01 Ran Intai anti-radiasi dan Nubika; dan 2S23 Nona SVK 120mm self-propelled gun, yang mulai digunakan AD Rusia sejak 1990.

Versi yang lebih besar adalah BTR-90 dengan peningkatan proteksi lapis baja, dilengkapi dengan persenjataan kanon otomatis 2A42 kaliber 30mm dengan kemampuan membawa sista rudal anti- tank Konkurs.

Bulan Juli 2005, perusahaan Polandia, Bumar, mendapat kontrak dari pemerintah Irak untuk memasok 115 unit BTR-80 APC rekondisi, ex-AD Hongaria untuk pengiriman 2006. Bangladesh juga memesan tambahan dari Rusia 60 unit BTR-80 APC untuk misi perdamaian PBB.

BTR-80 Amfibi

BTR-80 sepenuhnya adalah ranpur amfibi. Pada bagian kabin terdapat tujuh ball-swivel firing ports, empat pada sisi kanan dan tiga pada sisi kiri, sama halnya dengan port diatas hatches dari kompartemen penembakan. Hatches memiliki pintu lapis baja pada kedua sisi kendaraan. Kendaraan ini juga memiliki perlindungan Nubika, system pemadam kebakaran otomatis, perlengkapan penyamaran, pompa bilge dan winch self- recovery.

BTR-70 amfibi

Persenjataan

BTR-80 dipersenjatai dengan kubah senapan mesin BPU-1, untuk senjata KPTV kaliber 14.5mm dan Senapan mesin coaxial PKT kaliber 7.62mm. Kubah dapat berputar 360° dengan sudut elevasi 60° guna melakukan pertahanan udara.

Jarak tembak senjata sekitar 2km, dan jarak tembak kaliber 7.62mm sejauh 1.5km. Amunisi yang dapat dibawa 500 butir untuk KPVT dan 2.000 butir untuk PKT. Enam pelontar granat asap masing-masing tiga per sisi senjata utama.

BTR-80 milik marinir Ukraina

SPESIFIKASI

Jumlah awak 10 (3+7)

Bobot: 13,600 kg +3%

Power-to-weight ratio: 19.1 hp/t

Mesin Disel 7403 four-stroke 8-cylinder, liquid cooled, 260 hp

Roda: pneumatic, tubeless

Suspensi independent on traverse levers

Panjang keseluruhan 7.65 m

Lebar 2.9 m

Tinggi 2.35 m

Jejak roda 2.41 m

Clearance 475 mm

Radius berputar kendaraan 13.2 m

Kecepatan maksimum di jalan raya: 80 km/jam

Kecepatan maksimum di medan sulit 20 – 40 km/hour

Amphibi 9 km/hour

Jarak tempuh di jalan raya: 600 km

Jarak tempuh medan sulit 200 – 500 km

Jarak tempuh ampibi 12 hours

Kemiringan menanjak 30 derajat

Kemiringan menyamping 25 derajat

Halangan vertical 0.5 m

Halangan parit 2 m

Indonesia Military Strength

Posted: 7 September 2010 in top artikel

Indonesia Military strength

Bisa kita lihat ranking kekuatan militer di dunia yang saya lihat di situs http://globalfirepower.com/ . Menunjukan bahwa sebenarnya kekuatan militer Indonesia di mata dunia tidak lemah. Indonesia menempati peringkat 14 dunia. Hanya saja kita masih kekurangan alutsista, karena alutsista yang kita miliki rata-rata umurnya sudah tua. Namun walaupun demikian kita tetap optimis dan mampu untuk menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI.

PERSONNEL

Total Population : 237,512,352 [2008]

Population Available : 125,530,542 [2008]

Fit for Military Service : 104,496,911 [2008]

Reaching Military Age Annually : 4,291,700 [2008]

Active Military Personnel : 316,000 [2008]

Active Military Reserve : 400,000 [2008]

Active Paramilitary Units : 207,000 [2008]

ARMY

Total Land-Based Weapons : 2,122

Tanks : 425 [2004]

Armored Personnel Carriers : 684 [2004]

Towed Artillery : 293 [2004]

Self-Propelled Guns : 70 [2004]

Anti-Aircraft Weapons : 515 [2004]

AIR FORCE

Total Aircraft : 313 [2004]

Helicopters : 194 [2004]

Serviceable Airports : 652 [2007]

NAVY

Total Navy Ships : 111

Merchant Marine Strength : 971 [2008]

Major Ports and Harbors : 10

Aircraft Carriers : 0 [2008]

Destroyers : 0 [2008]

Submarines : 2 [2004]

Frigates : 15 [2004]

Patrol & Coastal Craft : 24 [2004]

Mine Warfare Craft : 12 [2004]

Amphibious Craft : 26 [2004]

LOGISTICAL

Labor Force : 109,900,000 [2007]

Roadways : 391,009 km

Railways : 6,458 km

FINANCES (USD)

Defense Budget: $4,740,000,000 [2008]

Foreign Exch. & Gold: $56,920,000,000 [2007]

Purchasing Power: $843,700,000 [2008]

OIL

Oil Production : 837,500 bbl/day [2007]

Oil Consumptionves : 4,430,000,000 bbl [2007]

GEOGRAPHIC

Waterways : 21,579 km

Coastline : 54,716 km

Square Land Area : 1,919,440 km

Compare Two Nations Side-by-Side

Data ini diambil pada tanggal yang tertera di sampingnya. Dan setelah saya mencari di wikipedia jumlah Kapal Perang Indonesia saat ini kurang lebih 148 unit dan ditambah lagi dengan KAL yang panjangnya kurang dari 36 meter berjumlah 317 unit serta 2 unit Kapal layar tiang tinggi.

Daftar pesawat TNI-AU

a. Pesawat Tempur (89 pesawat) :

Sukhoi Su-30MK2 Flanker , kekuatan 7 pesawat

F-16 Fighting Falcon, kekuatan 10 pesawat

F-5 Tiger, kekuatan 12 pesawat.

A-4 Sky Hawk, kekuatan 17 pesawat.

Hawk 100/200, kekuatan 35 pesawat.

Mk-53, kekuatan 9 pesawat.

OV-10 Bronco, kekuatan 9 pesawat.

Kesiapan rata-rata 25 pesawat (28 %).

b. Pesawat Latih (66 pesawat) :

AS-202 Bravo, kekuatan 27 pesawat

T-34 Charli, kekuatan 16 pesawat

SF-260 Marchetti, kekuatan 19 pesawat

KT-1B, kekuatan 4 pesawat

Kesiapan rata-rata 45 pesawat (68 %)

c. Pesawat Intai (3 pesawat) :

B-737, kekuatan 3 pesawat.

Untuk mendukung kesiapan pesawat intai agar laik misi, TNI AU memiliki 4 (empat) set mission equipment yang diinstalasi pada 3 (tiga) pesawat dan 1 (satu) buah FGS (Fixed Ground station).

Kesiapan rata-rata 1 pesawat (33 %).

d. Pesawat angkut (4 pesawat) :

C-130 KC Tanker, kekuatan 2 pesawat

F-27 TS, kekuatan 6 pesawat

CN-235, kekuatan 6 pesawat

C-212 casa, kekuatan 7 pesawat

C-130B, kekuatan 10 pesawat

C-130H, kekutan 10 pesawat

Kesiapan rata-rata 14 pesawat (34 %)

e. Pesawat VIP (12 pesawat) :

F-27 VIP, kekuatan 1 pesawat.

F-28 VIP, kekuatan 3 pesawat.

C-130 VIP, kekuatan 2 pesawat.

NAS-332 VIP, kekuatan 5 pesawat.

B-707 VIP, kekuatan 1 pesawat.

Kesiapan rata-rata 9 pesawat (75 %).

f. Pesawat Helikopter (41 pesawat) :

BELL-47 G/SOLLOY, kekuatan 12 pesawat

S-58 T/SIKORSKY, kekuatan 9 pesawat

SA-330 PUMA, kekuatan 9 pesawat

Latih Colibri sebanyak 8 pesawat

NAS-332 sebanyak 3 pesawat.

Kesiapan rata-rata 22 pesawat (54 %)

g. Radar :

10 unit radar Early Warning (EW)

6 unit radar Ground Control Interception (GCI)

4 pusat operasi hanud dan 1 dalam proses pembangunan

C-130 KC Tanker sedang melakukan latihan di Makassar

SA-330 PUMA

A-4 Sky Hawk

B-737

Resmi Diberangkatkan Menuju Pangkalan Sarana Operasi Bea & Cukai Pantoloan, Palu – Sulawesi Tengah

Direktorat Jenderal Bea & Cukai kembali menerima Kapal Patroli Cepat 38 Meter Aluminium BC30003, kapal ke tiga dari tiga kapal yang dipesan dari PT PAL INDONESIA (Persero) yang pembangunanya telah mendapatkan dukungan pembiayaan dari Islamic Development Bank (IDB) untuk kemudian dioperasikan di Pangkalan Sarana Operasi Bea & Cukai Pantoloan, Palu – Sulawesi Tengah.

Thomas Sugijata, Direktur Jenderal Bea & Cukai Departemen Keuangan, menyampaikan saat peresmian pemberangkatan kapal di Dermaga Divisi Kapal Perang PT PAL INDONESIA (Persero), Kamis tanggal 1 April 2010, bahwa untuk masa kini dan mendatang tantangan tugas jajaran Ditjen Bea & Cukai semakin kompleks. Beban dan tugas dalam melaksanakan pengawasan penindakan dan penyidikan terhadap penyelundupan dan kegiatan perdagangan atau aktivitas illegal lainnya di laut terbuka semakin berat, terlebih lagi dengan luasnya perairan Indonesia yang mempunyai garis pantai lebih dari delapan puluh satu ribu kilo meter.

Oleh karenanya, upaya dari Departemen Keuangan, khususnya Direktorat Jenderal Bea & Cukai yakni secara bertahap melakukan penguatan dan peremajaan armada kapal patroli dalam rangka menjawab tantangan tersebut diatas. Yaitu mencegah penyelundupan di laut yang modus operandinya semakin beragam, serta luasnya wilayah yang rawan terhadap masuknya barang-barang illegal ke wilayah Indonesia melalui pantai memerlukan pengawasan sehingga dibutuhkan sarana pendukung Armada Patroli yang kuat guna memantau aktivitas perdagangan di banyak titik strategis.

Kapal Patroli ini merupakan jenis FPB 38 meter Aluminium yang rancang bangunnya dilaksanakan sendiri oleh PT PAL INDONESIA (Indonesia), hal ini merupakan bukti bahwa putra-putri bangsa sendiri telah mampu menguasai teknologi perkapalan yang tidak kalah dari karya bangsa lain.

Adapun ukuran utama Kapal Patroli Cepat 38 Meter Aluminium ini sbb :

Panjang keseluruhan : 42.00 meter

Panjang garis air : 38.00 meter

Lebar : 7.30 meter

Tinggi : 4,47 meter

Sarat air kekuatan : 1.85 meter

Sarat air desain : 1.65 meter

Kecepatan maks. : 33.00 Knots

sumber :  www.pal.co.id/

Kekuatan TNI Angkatan Laut

Posted: 23 April 2010 in top artikel

Kekuatan TNI Angkatan Laut

KRI Hasanuddin 366

Nama kapal yang dimiliki TNI-AL selalu dimulai dengan KRI, singkatan dari Kapal Perang Republik Indonesia. Selain itu juga ada kapal yang diawali dengan KAL, singkatan dari Kapal Angkatan Laut. Suatu sistem penomoran diadopsi guna membedakan tiap Kapal. Nama kapal bervariasi, mulai dari nama Pahlawan, Teluk, hingga binatang.

Setiap kapal dipersenjatai dengan salah satu atau lebih dari berbagai macam persenjataan yang tersedia menurut kelasnya, mulai dari senapan mesin 12,7mm, kanon, meriam hingga peluru kendali.

Saat ini TNI AL memiliki sekitar 68800 prajurit, termasuk di dalamnya 18500 personel marinir dan 1090 penerbangan/personel udara AL. Kekuatan TNI AL secara garis besar sebagai berikut:

Kapal perang

Kapal Republik Indonesia (KRI) berjumlah 132 kapal, KRI, dibagi menjadi tiga kelompok kekuatan:

  1. Kekuatan Pemukul (Striking Force) terdiri dari 40 KRI yang memiliki persenjataan strategis:

1. 2 kapal selam kelas Cakra.

2. 6 Fregat kelas Ahmad Yani

3. 3 Fregat kelas Fatahillah

4. 1 Fregat kelas Ki Hajar Dewantara

5. 4 Korvet kelas SIGMA (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach)

6. 16 Korvet anti kapal selam kelas Parchim

7. 4 kapal cepat roket (KCR) kelas Mandau.

8. 2 kapal cepat torpedo (KCT) kelas Ajak.

9. 2 buru ranjau (BR) kelas Pulau Rengat.

B. Kekuatan Patroli (Patrolling Force) berjumlah 46 KRI.

C. Kekuatan Pendukung (Supporting Force) berjumlah 48 KRI, terdiri dari:

1. 8 angkut tank (AT) kelas Teluk Langsa

2. 4 angkut tank (AT) kelas Teluk Semangka

3. 2 angkut tank (AT) kelas Teluk Banten

4. 8 angkut tank (AT) Kelas Frosch

5. 1 markas (MA) kelas Multatuli

6. 6 penyapu ranjau (PR) kelas kondor

7. 5 bantuan cair minyak (BCM)

8. 1 bengkel apung (BA) kelas Jayawijaya

9. 3 bantu tunda (BTD)

10. 3 bantu umum (BU)

11. 1 bantu angkut personel (BAP) kelas Tanjung Kambani

12. 3 bantu hidrooseanografi (BHO) kelas Pulau Rondo

13. 1 bantu hidrooseanografi (BHO) kelas Dewa Kembar

14. 2 kapal latih.

TNI AL kedepannya akan mempunyai 3 kapal induk pengangkut helikopter. Kapal Induk ini masih dalam tahap pengerjaan yang dilakukan oleh PT. PAL

Kapal patroli pendukung

Kapal Angkatan Laut (KAL) adalah kapal patroli yang berfungsi untuk mendukung Pangkalan TNI AL (Lanal) dalam melaksanakan tugas-tugas patroli keamanan laut dan tugas-tugas dukungan lainnya.

Pesawat udara

Pesawat Intai TNI AL

Pesawat udara berjumlah 82 unit, terdiri dari 52 sayap tetap dan 30 sayap putar.

Pasukan darat

Logo Korps Marinir

Uji Coba Kapal Pengangkut Tank

Peralatan tempur Korps Marinir sejumlah 437 kendaraan tempur (ranpur), tetapi 307 ranpur berusia di atas 30 tahun, 37 ranpur berusia 21-30 tahun, sisanya 103 ranpur berusia 1-10 tahun.

Pangkalan

Pangkalan Utama Angkatan Laut

Penomoran lantamal diubah menjadi berurutan dari Lantamal I sampai XI sesuai lokasi dari barat ke timur pada 1 Agustus 2006 seiring dengan peresmian Pangkalan Angkatan laut (Lanal) Teluk Bayur, Kota Padang, Sumatra Barat menjadi Pangkalan Utama Angkalan Laut (Lantamal) II.

Kekuatan TNI Angkatan Laut tersebar di beberapa Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) yang berada di bawah dua komando utama armada yaitu:

  1. Komando Armada RI Kawasan Barat
    1. Pangkalan Utama I (Lantamal I) di Belawan, membawahi 2 Pangkalan Angkatan Laut, meliputi Sabang, dan Dumai. Satu Pangkalan Udara Angkatan Laut (Lanudal) Sabang, dan dua fasilitas pemeliharaan dan perbaikan (Fasharkan) di Sabang, Belawan. Lantamal ini rencananya akan dipindahkan ke Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam.
    2. Pangkalan Utama II (Lantamal II) di Padang membawahi Lanal Sibolga dan Bengkulu. Sebelum 1 Agustus 2006, Lantamal II merupakan sebutan untuk Lantamal III Jakarta.
    3. Pangkalan Utama III (Lantamal III) di Jakarta, membawahi 6 Pangkalan Angkatan Laut, meliputi Palembang, Cirebon, Panjang, Banten, Bandung, dan Bangka Belitung. Selain itu, memiliki satu fasilitas pemeliharaan dan perbaikan di Pondok Dayung, Jakarta. Fasharkan Pondok Dayung ini sekarang memiliki kemampuan membuat kapal patroli jenis KAL ukuran 28-35 meter. Sebelum 1 Agustus 2006, Lantamal III merupakan sebutan untuk Lantamal V Surabaya.
    4. Pangkalan Utama IV (Lantamal IV) di Tanjung Pinang membawahi 6 Pangkalan Angkatan Laut, yaitu Batam, Pontianak, Tarempa, Ranai, Tanjung Balai Karimun, dan Dabo Singkep. Lantamal Tanjung Pinang memiliki satu fasilitas pemeliharaan dan perbaikan (Fasharkan) di Mentigi yang punya kemampuan membuat kapal patroli (KAL) 12, 28, dan 35 meter. Di samping itu, memiliki 2 Pangkalan Udara Angkatan Laut (Lanudal) berada di Matak, Kepulauan Natuna, dan di Tanjung Pinang/Kijang. Sebelum 1 Agustus 2006, Lantamal IV merupakan sebutan untuk Lantamal VI Makassar.

  1. Komando Armada RI Kawasan Timur

a. Pangkalan Utama V (Lantamal V) di Surabaya membawahi lima Pangkalan Angkatan Laut, meliputi Tegal, Cilacap, Semarang, Yogyakarta, Malang, Banyuwangi, dan Benoa. Sebelum 1 Agustus 2006, Lantamal V merupakan sebutan untuk Lantamal X Jayapura.

b. Pangkalan Utama VI (Lantamal VI) di Makassar, membawahi Pangkalan Angkatan Laut Kendari, Palu, Balikpapan, Kotabaru, dan Banjarmasin. Sebelum 1 Agustus 2006, Lantamal VI merupakan sebutan untuk Lantamal VIII Bitung.

c. Pangkalan Utama VII (Lantamal VII) di Kupang, Nusa Tenggara Timur, membawahi Pangkalan Angkatan Laut Mataram, Maumere, Kupang, Tual, dan Aru. Memiliki 1 Pangkalan Udara, di Kupang. Sebelum 1 Agustus 2006, Lantamal VII merupakan sebutan untuk Lantamal IV Tanjung Pinang.

d. Pangkalan Utama VIII (Mako Lantamal VIII) di Kota Bitung membawahi Pangkalan Angkatan Laut Tarakan, Nunukan, Sangatta, dan Toli-Toli serta satu Pangkalan Udara Angkatan Laut di Manado. Lantamal VIII sebelum 1 Agustus 2006, merupakan sebutan untuk Lantamal IX Ambon.

e. Pangkalan Utama IX (Lantamal IX) di Ambon membawahi Pangkalan Angkatan Laut Ternate. Sebelum 1 Agustus 2006, Lantamal IX merupakan sebutan untuk Lantamal VII Kupang.

f. Pangkalan Utama X (Mako Lantamal X) di Jayapura, membawahi Pangkalan Angkatan Laut Sorong, Biak, Timika, dan Merauke serta satu Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan di Manokwari yang mampu memproduksi KAL 12 dan 28 meter.

g. Pangkalan Utama XI (Lantamal XI) di Merauke, Papua (direncanakan).

Rencana pengembangan

Berdasarkan rencana pengembangan kekuatan periode 2005-2024, struktur operasional TNI-AL akan diubah di mana dua komando armada yang ada sekarang (Komando Armada Kawasan Barat dan Komando Armada Kawasan Timur) akan dilebur menjadi satu armada yang dipimpin laksamana berbintang tiga.

Armada ini akan membawahi tiga komando wilayah laut (Kowilla) yaitu Kowilla Barat dengan markas direncanakan di Tanjung Pinang, Riau, Kowilla Tengah dengan markas di Makassar dan Kowilla Timur dengan markas di Sorong. Pembagian komando operasional ini didasarkan pada karakteristik perairan yang membutuhkan pola operasi dan perangkat yang berbeda serta untuk memudahkan pergeseran pasukan atau logistik. Tetapi berdasarkan surat dari Panglima TNI, rencana pemekaran organisasi TNI AL ini ditolak, belum ditentukan kapan akan disetujui.

Kekuatan lain

Puspenerbal

Puspenerbal atau Pusat Penerbangan TNI AL merupakan bagian dari TNI-AL yang bertugas menyediakan fungsi penerbangan bagi operasi-operasi Angkatan Laut. Pupernerbal didirikan pada tahun 1956. Puspenerbal dibentuk sebagai sentralisasi pembinaan penerbangan TNI AL dalam suatu wadah, sehingga akan lebih menguntungkan dalam pengawasan dan pengendaliannya.

Komando Pasukan Katak

Logo Kopaska

Komando Pasukan Katak (disingkat Kopaska) adalah pasukan khusus dari TNI Angkatan Laut. Semboyan dari korps ini adalah “Tan Hana Wighna Tan Sirna” yang berarti “tak ada rintangan yang tak dapat diatasi”. Korps ini secara resmi didirikan pada 31 Maret 1962 oleh Presiden Indonesia waktu itu Soekarno untuk membantunya dalam masalah Irian Jaya. Pasukan khusus ini sebenarnya sudah ada sejak 1954.

Kopaska latihan

Detasemen Jala Mengkara

Logo Detasemen Jala Mengkara

Detasemen Jala Mangkara (disingkat Denjaka) adalah sebuah detasemen pasukan khusus TNI Angkatan Laut. Denjaka adalah satuan gabungan antara personel Kopaska dan Taifib Korps Marinir TNI-AL. Denjaka dibentuk berdasarkan instruksi Panglima TNI kepada Komandan Korps Marinir No Isn.01/P/IV/1984 tanggal 13 November 1984.

Detasemen Jala Mengkara

Korps Wanita Angkatan Laut

Korps Wanita Angkatan Laut (disingkat Kowal) merupakan bagian dari TNI Angkatan Laut, dan setiap tanggal 5 Januari diperingati sebagai Hari jadi Kowal.

Polisi Militer Angkatan Laut

Polisi Militer AL

Bagian ini membutuhkan pengembangan

Tentara Nasional Indonesia

Posted: 20 April 2010 in top artikel

Tentara Nasional Indonesia

Kecabangan militer

TNI Angkatan Darat

TNI Angkatan Laut

TNI Angkatan Udara